Minggu, 11 November 2012

BALADA PENGEMIS TUA

Sepasang kakek buta dan nenek duduk-duduk menikmati udara pagi di trotoar alon-alon Jember. Mereka berdua diam tidak bersuara tidak berbicara. Pandangan mereka menerawang kedepan entah apa yang ada dalam fikiran mereka masing-masing. Mungkin merancang strategi kerja, mungkin kekawatiran adakah rezeki hari ini.

Mentari semakin terang, masyarakat yang beraktifitas semakin banyak. Berolah raga lar
i pagi, jalan santai, jelan cepat, bersepeda, bermain bola, bermain scooter poo sudah memenuhi trotoar. Nenek dan kakek itu tersadar dari lamunannya, Sinenek mengajak kakek untuk berdiri dan berjalan bergandengan. Nenek menyorongkan mangkok plastik kecil meminta sedekah kepada para pejalan kaki, namun masih kosong. Mereka berdua terus berjalan pelan menyodorkan mangkok kecilnya memutari trotoar alon-alon. Stengah putaran mereka berhenti duduk dibawah pohon istirahat juga masih meminta sedekah. Tidak jauh dari mereka seorang nenek, rambutnya putih, wajahnya keriput dan giginya sudah banyak tanggal, kelihatan dari pipinya yang kempong, membawa gendongan entah apa isinya juga berprofesi yang sama sebagai peminta-minta.

Prihatin juga melihat mereka, sudah tua seperti itu masih harus berjuang mengais rejeki dengan meminta-minta. Dimanakah keluarga mereka, anak mereka, membiarkan orang tua, yang seharusnya menikmati masa tuanya dirumah bercengkerama dengan cucu-cucu mereka. Terkadang memang nenek, kakek itu tidak mau tinggal diam, duduk manis, ada saja ulah mereka yang terkadang justru membuat malu anak cucu Bagi yang tidak tahu tentu berfikir keluarga anak cucu tidak peduli.

Pemerintah melalui dinas sosial seharusnya merasia mereka untuk dipelihara. Bukankah dalam undang-undang dikatakan bahwa anak dan orang terlantar menjadi tanggungan negara.

Tidak ada komentar: